GAMAS Bikin Gemas: Saat Ayah Menjinjing Tas Berwarna Pink




Pagi itu suasana terasa berbeda.

Jalan yang biasanya lengang selama masa libur sekolah mendadak dipenuhi kendaraan. Di setiap persimpangan terlihat motor dan mobil berjalan perlahan. Anak-anak dengan seragam baru duduk di depan ayah atau ibunya, sesekali memperlihatkan wajah penuh semangat, sebagian lagi tampak gugup karena akan bertemu teman dan guru setelah sekian lama menikmati liburan.

Di antara keramaian itu, ada pemandangan yang mengundang senyum.

Seorang ayah bertubuh kekar, menggandeng putrinya dan menjinjing tas sekolah berwarna merah muda bergambar Hello Kitty. Di sisi lain, seorang anggota TNI menggandeng putranya sambil membawa botol minum bergambar Roblox. Tak jauh dari sana, seorang Polisi menggendong putrinya yang masih mengantuk, sementara di pundaknya tergantung tas bergambar Kuda Poni, Tak ketinggalan Ayah-ayah berseragam khaki khas ASN sambil membonceng putra-putrinya di jalanan kota Purwodadi.

Tidak ada yang terlihat canggung.

Hari itu, semua ayah seolah memiliki profesi yang sama: mengantar anaknya ke sekolah.

Mungkin hanya perjalanan beberapa kilometer. Mungkin hanya lima belas menit. Namun bagi seorang anak, perjalanan itu jauh lebih berarti daripada yang dibayangkan orang dewasa.

Di tengah banyaknya pembahasan tentang fenomena fatherless ketika seorang anak tumbuh tanpa kehadiran ayah, baik secara fisik maupun emosional—momen sederhana seperti ini justru terasa begitu mahal. Anak tidak selalu membutuhkan hadiah yang mewah. Mereka hanya ingin tahu bahwa ayahnya ada. Menemani. Mendengarkan. Mengantar langkah kecil mereka menuju gerbang sekolah.

Karena itulah Pemerintah Kabupaten Grobogan mengajak seluruh ASN untuk mendukung GAMAS (Gerakan Ayah Mengantar Sekolah) sebagai bagian dari penguatan ketahanan keluarga. Sebuah gerakan sederhana, tetapi sarat makna.

Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Grobogan pun ikut mengambil bagian. Atas arahan Kepala Dinas, apel pagi ditiadakan. Sebagai gantinya, pegawai yang memiliki anak usia sekolah diberi kesempatan mengantar putra-putrinya terlebih dahulu. Absensi dapat dilakukan dari lokasi masing-masing dengan melampirkan dokumentasi kebersamaan bersama anak.


Barangkali bagi sebagian orang itu hanyalah kebijakan kecil.

Namun sesungguhnya, itu adalah cara pemerintah mengatakan bahwa keluarga juga penting.

Bahwa pekerjaan memang harus diselesaikan dengan baik, tetapi pelukan seorang anak sebelum memasuki kelas di hari pertama sekolah juga tidak kalah berharga.

Kelak, ketika anak-anak itu tumbuh dewasa, mereka mungkin tidak lagi ingat nilai pelajaran pertama yang diberikan guru. Mereka mungkin lupa sepatu baru yang dipakai atau bekal yang dibawa.

Tetapi mereka akan mengingat siapa yang menggenggam tangan mereka saat melangkah memasuki gerbang sekolah.

Mereka akan mengingat ayahnya.

Maka, jika pagi ini jalanan terasa lebih ramai dari biasanya, biarlah. Kemacetan itu bukan sekadar antrean kendaraan. Di dalamnya ada ribuan cerita tentang kasih sayang, tentang ayah yang rela datang sedikit terlambat ke kantor demi memastikan anaknya memulai tahun ajaran baru dengan senyum.

Dan mungkin, itulah investasi terbaik untuk masa depan Indonesia.

Selamat untuk seluruh ayah di mana pun berada. Terima kasih telah menjadi pelindung, penguat, dan teladan bagi keluarga. Semoga selalu diberi kesehatan, kekuatan, dan umur panjang untuk terus menemani setiap langkah kecil anak-anak menuju mimpi-mimpinya. ❤️


Dapatkan Data yang Anda Cari