DLH Grobogan Sosialisasikan Program Adiwiyata kepada 29 Calon Sekolah Tahun 2027




Grobogan – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Grobogan melaksanakan sosialisasi Program Adiwiyata bagi calon sekolah Adiwiyata Kabupaten tahun 2027, Kamis (10/9/2026). Kegiatan tersebut ditujukan bagi sekolah jenjang SD/MI dan SMP/MTs sederajat sebagai langkah awal mempersiapkan pelaksanaan Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (GPBLHS).

Kegiatan yang berlangsung di Aula Dong Dayakan DLH Kabupaten Grobogan tersebut diikuti oleh 29 sekolah calon Adiwiyata Kabupaten dari jenjang SD dan SMP sederajat.

Sosialisasi menghadirkan Kepala Bidang Penaatan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup, S. Gunawan Widiyanto, SKM., M.Kes., sebagai narasumber pertama. Materi juga disampaikan oleh Sigit Harnoto, S.E., selaku Pengawas Lingkungan. Kegiatan turut didampingi Waswasa Naning Sri, S.E., Kepala Seksi Kurikulum dan Penilaian Sekolah Menengah Pertama Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan, yang memberikan arahan dan dukungan kepada sekolah calon Adiwiyata.

Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan berbagai aspek dasar pelaksanaan Program Adiwiyata, mulai dari persyaratan administrasi hingga penerapan kegiatan peduli dan berbudaya lingkungan di lingkungan sekolah.


Materi juga mencakup pengelolaan sampah, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pengelolaan sampah organik, penghijauan, serta berbagai langkah sederhana yang dapat dilakukan sekolah untuk membangun kebiasaan ramah lingkungan.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam sosialisasi adalah mekanisme pengajuan Program Adiwiyata yang saat ini telah didukung oleh SIDIA - Sistem Informasi Adiwiyata (Platform Integrasi Sekolah Adiwiyata Indonesia).

Melalui SIDIA, sekolah dapat menyampaikan data dan dokumen pendukung secara daring dan dapat dilakukan secara real time selama terhubung dengan jaringan internet. Digitalisasi tersebut diharapkan mempermudah sekolah dalam proses pengajuan sekaligus mengurangi penggunaan dokumen berbasis kertas atau paperless.

Selain aspek administrasi, sekolah juga mendapatkan pemahaman bahwa keberhasilan Program Adiwiyata tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya anggaran yang tersedia.

Hal tersebut mengemuka dalam sesi diskusi ketika sejumlah sekolah menyampaikan kekhawatiran mengenai kebutuhan biaya apabila mengikuti Program Adiwiyata.

Menanggapi hal tersebut, disampaikan bahwa esensi Adiwiyata bukanlah membangun fasilitas sekolah dengan biaya besar, melainkan membangun kebiasaan dan pembiasaan yang pada akhirnya membentuk kepedulian serta budaya cinta lingkungan pada seluruh warga sekolah.

Banyak kegiatan Adiwiyata yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya yang telah tersedia di lingkungan sekolah. Pemanfaatan barang bekas, penghijauan, pemilahan sampah, pengurangan sampah plastik, pengelolaan sampah organik, hingga keterlibatan siswa, guru, tenaga kependidikan dan warga sekolah merupakan bagian penting dari gerakan tersebut.

Dengan demikian, sekolah tidak harus menunggu tersedianya anggaran besar untuk memulai gerakan peduli lingkungan. Perubahan dapat dimulai dari hal sederhana dan dilakukan secara konsisten.

Waswasa Naning Sri dari Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan turut memberikan dukungan dan motivasi kepada sekolah agar berpartisipasi aktif dalam Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah. Kolaborasi antara DLH, Dinas Pendidikan, dan sekolah menjadi bagian penting dalam membangun budaya lingkungan secara berkelanjutan.

Program Adiwiyata memberikan manfaat yang dapat dirasakan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dalam jangka pendek, penerapan Adiwiyata dapat membantu sekolah menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, hijau, dan nyaman. Pengelolaan sampah yang lebih baik juga dapat mengurangi timbulan sampah sekaligus meningkatkan keteraturan lingkungan sekolah.

Sementara dalam jangka panjang, pembiasaan tersebut diharapkan membentuk karakter peserta didik yang memiliki kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Kebiasaan memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik, menghemat sumber daya, merawat tanaman, serta menjaga kebersihan diharapkan tidak berhenti di sekolah, tetapi terbawa hingga ke rumah dan lingkungan masyarakat.

“Adiwiyata pada dasarnya adalah gerakan untuk membangun kebiasaan. Tidak harus menunggu fasilitas lengkap atau anggaran besar. Yang paling penting adalah bagaimana seluruh warga sekolah mau memulai, melakukan secara konsisten, dan menjadikannya sebagai budaya,” ujar S. Gunawan.

Melalui sosialisasi ini, DLH Kabupaten Grobogan berharap 29 calon sekolah Adiwiyata tahun 2027 dapat mulai mempersiapkan program secara bertahap sesuai kondisi dan potensi masing-masing sekolah.

Program Adiwiyata bukan sekadar mengejar predikat atau penghargaan. Lebih dari itu, program ini merupakan investasi jangka panjang untuk membentuk generasi yang memiliki kesadaran, kepedulian, dan perilaku ramah lingkungan.

Dari sekolah, kebiasaan baik dibangun. Dari kebiasaan, budaya lingkungan tumbuh. Dan dari budaya tersebut, diharapkan lahir generasi yang semakin peduli terhadap keberlanjutan lingkungan Kabupaten Grobogan.


Dapatkan Data yang Anda Cari