F4 Bukan Flower Four, tapi Flies 4: Saat Petugas DLH Berubah Menjadi Lalat



Bukan Jerry Yan, Vic Zhou, Ken Chu, dan Vanness Wu

Grobogan – Ada yang berbeda dalam Karnaval Pembangunan Kabupaten Grobogan tahun ini. Bukan sekadar kendaraan hias atau kostum warna-warni, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Grobogan justru membawa pesan lingkungan dengan cara yang unik: empat petugas tampil mengenakan kostum lalat.

F4. Bukan Flower Four, melainkan “Flies 4”.

Kostum tersebut menjadi bagian dari kreativitas DLH Grobogan dalam menyampaikan pesan sederhana tentang pentingnya memilah sampah dari sumbernya. Pesan itu dibawa dalam Karnaval Pembangunan Kabupaten Grobogan yang digelar pada Senin (24/8/2026), sebagai rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Karnaval pembangunan yang rutin digelar setiap tahun tersebut tahun ini memiliki sejumlah perubahan. Rute pemberangkatan masih dimulai dari depan panggung kehormatan Pendopo Kabupaten Grobogan. Namun, terdapat perbedaan pada titik akhir perjalanan peserta.

Peserta dari tingkat Kelompok Bermain (KB), TK, SD, hingga SMP menyelesaikan perjalanan di Bundaran Simpang Lima. Sementara peserta SMA/SMK, OPD, BUMD, dan swasta tetap melanjutkan perjalanan hingga garis finis di Alun-Alun Purwodadi.

Sebanyak 46 peserta ambil bagian dalam karnaval tahun ini. Rinciannya, 31 peserta berasal dari jenjang KB, TK, SD, dan SMP, sedangkan 15 peserta lainnya merupakan perwakilan SMA/SMK, OPD, BUMD, dan swasta.

Pemberangkatan juga dilakukan lebih pagi dibandingkan pelaksanaan sebelumnya. Tepat pukul 10.00 WIB, barisan Polres Grobogan dan Kodim Purwodadi mengawali perjalanan karnaval. Setelah itu, SMP Negeri 3 Purwodadi menjadi peserta yang berada di urutan terdepan.

Sementara itu, DLH Kabupaten Grobogan bergabung dalam barisan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Tahun ini, sebanyak 29 OPD Kabupaten Grobogan tampil dalam satu barisan dengan membawa panji OPD Kabupaten Grobogan.

Penggabungan tersebut menjadi salah satu bentuk efisiensi dalam pelaksanaan kegiatan, sehingga sejumlah OPD tidak tampil secara terpisah, melainkan bergabung dalam beberapa rumpun sesuai bidang masing-masing.

Barisan OPD dibagi menjadi empat rumpun. Rumpun I terdiri atas bidang ekonomi, sarana prasarana, dan ketahanan pangan. Rumpun II meliputi pendidikan, sosial budaya, dan politik. Rumpun III terdiri atas kesehatan dan pelayanan publik. Sementara Rumpun IV mencakup sumber daya manusia dan komunikasi.

DLH Grobogan berada dalam Rumpun III bersama OPD lainnya. Namun, kehadiran DLH tetap mudah dikenali melalui pesan lingkungan yang dibawa.

Jika biasanya pesan tentang sampah disampaikan melalui poster atau slogan, kali ini DLH memilih cara yang lebih menghibur sekaligus mengundang perhatian. Empat petugas tampil dengan kostum lalat.

“F4 bukan Flower Four, tetapi Flies 4,” menjadi konsep yang dibawa dalam barisan DLH.

Keempat “lalat” tersebut menggambarkan konsekuensi dari sampah yang tidak dikelola dengan baik. Sampah yang tidak dipilah dan dibiarkan menumpuk dapat mengundang lalat serta berpotensi menimbulkan berbagai persoalan lingkungan dan kesehatan.

Melalui penampilan tersebut, DLH ingin menyampaikan pesan bahwa pengelolaan sampah seharusnya dimulai dari sumbernya. Masyarakat didorong untuk memilah sampah sesuai jenisnya sebelum sampah tersebut masuk ke sistem pengangkutan dan pengolahan.

Pesan itu semakin lengkap dengan kehadiran Kepala DLH Kabupaten Grobogan, Heru Dwi Cahyono, S.STP., M.Si. Tidak hanya berdiri menyaksikan jalannya karnaval, ia turut ambil bagian dengan mengendarai kendaraan Tossa pengangkut sampah yang telah dihias.


Kehadiran tersebut menjadi simbol bahwa pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab petugas kebersihan, tetapi membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk masyarakat dan pemerintah.

“Melalui karnaval ini, kami ingin menyampaikan pesan bahwa persoalan sampah harus dimulai dari sumbernya. Kalau sejak awal sampah sudah dipilah sesuai jenisnya, tentu akan lebih mudah untuk diangkut, diolah, dan dimanfaatkan kembali,” ujar Heru.

Ia menambahkan, kreativitas dalam karnaval menjadi salah satu cara untuk menyampaikan edukasi lingkungan dengan pendekatan yang lebih dekat dan mudah diterima masyarakat.

“Kami sengaja membawa pesan ini dengan cara yang sederhana dan menghibur. Mudah-mudahan masyarakat tidak hanya melihat kostumnya, tetapi juga menangkap pesan di baliknya: jangan biarkan sampah menjadi tempat berkembangnya lalat. Mari pilah sampah dari rumah,” katanya.

Karnaval pembangunan akhirnya bukan hanya menjadi ruang untuk menampilkan kreativitas dan semangat kemerdekaan, tetapi juga menjadi media edukasi publik. Dari barisan OPD, kendaraan Tossa, hingga empat petugas yang berubah menjadi “lalat”, DLH Grobogan ingin mengingatkan bahwa menjaga kebersihan lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: memilah sampah dari sumbernya.


Dapatkan Data yang Anda Cari