Tugu Tani Nglejok Ditata, Wajah Baru Taman Tetap Bawa Identitas Pertanian Grobogan
Grobogan – Kawasan Bundaran Tugu Tani Nglejok, Purwodadi, akan mendapatkan penataan kembali. Pemerintah Kabupaten Grobogan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Grobogan mulai melakukan tahapan persiapan revitalisasi dengan diawali pelaksanaan Mutual Check 0 (MC-0).
Penataan tidak hanya diarahkan untuk memperbarui tampilan taman, tetapi juga mempertimbangkan aspek fungsi, keselamatan pengguna jalan, serta kebutuhan ruang gerak kendaraan yang melintas di kawasan tersebut.
Evaluasi terhadap kondisi eksisting menjadi salah satu dasar dalam penyusunan kembali desain taman. Salah satu penyesuaian yang dilakukan adalah mengurangi diameter taman yang sebelumnya sekitar 34 meter menjadi 31,5 meter.
Penyesuaian tersebut dilakukan untuk memberikan ruang manuver yang lebih memadai, khususnya bagi kendaraan berdimensi besar yang melintas di kawasan Bundaran Tugu Tani Nglejok.
Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH Kabupaten Grobogan, Eko Sulistyono, menjelaskan bahwa perubahan desain tersebut merupakan bagian dari evaluasi teknis dan tindak lanjut atas masukan masyarakat yang selama ini diterima.
“Penyesuaian diameter ini dilakukan agar ruang gerak kendaraan menjadi lebih leluasa. Sebelumnya beberapa kendaraan besar saat bermanuver kerap mengenai bagian taman,” jelas Eko.
Untuk memperkuat batas antara area taman dengan jalur kendaraan, DLH juga merencanakan pemasangan barrier. Selain berfungsi sebagai pelindung fisik, keberadaan barrier tersebut diharapkan dapat menjadi penanda visual bagi pengemudi sehingga batas taman lebih mudah dikenali, terutama pada malam hari.
Namun, penataan Tugu Tani Nglejok tidak semata-mata berbicara mengenai aspek teknis. Konsep lanskap yang disiapkan tetap membawa karakter Kabupaten Grobogan sebagai salah satu daerah agraris.
Konsep tersebut diwujudkan melalui desain taman yang mengambil inspirasi dari bentang persawahan serta filosofi empat arah mata angin.
Badan taman akan dibuat lebih tinggi dari permukaan jalan, dengan lanskap berundak yang terinspirasi dari bentuk terasering persawahan. Perbedaan elevasi pada setiap bagian taman diharapkan memberikan karakter visual yang lebih kuat sekaligus mempertegas konsep lanskap yang diusung.
“Konsepnya tetap mengangkat identitas pertanian Grobogan. Kami mengambil metafora dari area persawahan dengan bentuk bertingkat seperti terasering, sekaligus memasukkan filosofi empat arah mata angin,” terang Eko.
Pada aspek vegetasi, DLH menyiapkan tanaman yang disesuaikan dengan karakter kawasan dan kebutuhan pemeliharaan. Salah satu tanaman peneduh yang direncanakan adalah palem Bismarckia Silver atau Bismarckia nobilis.
Tanaman tersebut dipilih karena memiliki pertumbuhan relatif lambat dan bentuk tajuk yang teratur, sehingga diharapkan tidak mengganggu jarak pandang maupun aktivitas pengguna jalan.
Sementara untuk tanaman penutup tanah, akan digunakan Arachis pintoi yang memiliki bunga berwarna kuning serta relatif mudah dalam pemeliharaan.
Ikon utama kawasan, yakni Patung Pak Tani dan Bu Tani, juga akan mendapatkan pembaruan. Kedua figur tersebut tetap dipertahankan sebagai identitas Tugu Tani, namun akan diwujudkan kembali dengan proporsi dan tampilan yang disesuaikan dengan konsep revitalisasi.
Patung baru direncanakan memiliki tinggi sekitar 3–4 meter di atas dudukan yang mengambil inspirasi dari bentuk bakul gendong. Material batu alam andesit dan bata tempel terakota akan digunakan pada bagian dudukan untuk memperkuat kesan natural sekaligus mengangkat unsur lokal.
“Pak Tani dan Bu Tani tetap menjadi ikon utama. Hanya saja nantinya dibuat lebih proporsional dan realistis, dengan ekspresi yang lebih ramah dan menggambarkan semangat masyarakat pertanian,” ujar Eko.
Nuansa pertanian juga akan diperkuat melalui elemen pendukung taman. Desain lampu akan mengambil bentuk lengkung yang terinspirasi dari bulir padi dan tongkol jagung. Sementara pagar pembatas kawasan dirancang menyerupai jajaran tongkol jagung.
Elemen-elemen tersebut bukan sekadar ornamen, tetapi menjadi bagian dari upaya menghadirkan identitas visual Kabupaten Grobogan pada ruang publik.
Komoditas pertanian dan ketahanan pangan menjadi inspirasi utama agar Tugu Tani Nglejok tidak hanya berfungsi sebagai taman di tengah bundaran, tetapi juga mampu menjadi salah satu ruang publik yang merepresentasikan karakter daerah.
Tahapan awal revitalisasi dijadwalkan berlangsung selama tiga bulan, mulai 21 Agustus hingga 18 November 2026. Pada tahap pertama, pekerjaan difokuskan pada pembentukan struktur utama kawasan, pekerjaan tanah, fondasi, beton, serta elemen dinding dan lanskap.
Sementara itu, pembangunan dan pemasangan patung baru serta penanaman tanaman utama direncanakan dilanjutkan pada tahap berikutnya pada tahun 2027.
Revitalisasi tahap awal tersebut didukung anggaran sebesar Rp342 juta melalui APBD Kabupaten Grobogan Tahun Anggaran 2026.
Melalui penataan ini, DLH Kabupaten Grobogan tidak hanya berupaya menghadirkan wajah baru bagi Bundaran Tugu Tani Nglejok, tetapi juga memastikan ruang publik dapat berfungsi secara lebih baik, aman, dan memiliki karakter yang kuat.
Tugu Tani tetap menjadi Tugu Tani. Hanya saja, kali ini ia disiapkan untuk tampil lebih representatif, lebih fungsional, dan semakin mencerminkan Grobogan sebagai daerah yang tumbuh bersama pertanian.